Minggu, 14 Mei 2017

Imperialisme Amerika dan Islam Politik
Selama Perang Dingin, Amerika Serikat memandang nasionalisme dan komunisme radikal sebagai ancaman buruk untuk pengaruh mereka. Setelah periode awal ketika Washington berusaha memenangkan Nasser, dan nasionalis sekuler Iran Mohammded Mossadeqh ke pihak mereka gagal, Washington kemudian mengembangkan strategi Islam dimana kelompok-kelompok Islamis yang dibantu Saudi Arabia, dibiarkan untuk kemudian dijadikan benteng pertahanan melawan nasionalisme radikal dan komunisme. Selama tahun 1950-an, Amerika Serikat menggunakan Persaudaraan Muslim (Ikhwanul Muslimin/IM) di Mesir untuk menentang Nasser, dan sekelompok ulama di Iran untuk menentang Mossadeqh.
Jika Mossadeqh mewakili potensi terhadap apa yang penguasa nasionalis sekuler bisa lakukan terhadap Barat atas kepentingan minyaknya (ia menasionalisasi industri minyak), Nasser mewakili skenario mimpi buruk Washington. Mesir memang tak memiliki kekayaan minyak, tapi ideologi Nasserisme yang menitikberatkan pada persatuan seluruh bangsa Arab, coba mempersatukan negara-negara kota yang maju secara teknologi dengan kelas pekerja yang terampil dalam jumlah besar, dengan negara-negara penghasil minyak yang kaya-raya. Kombinasi Kairo dan Riyadh jelas bakal mempersulit dominasi Barat terhadap sumber-sumber minyak dikawasan tersebut. Maka, sebagai tambahan bagi rencana kudeta melawan Nasser, termasuk berbagai percobaan pembunuhan terhadapnya, seperti meracuni coklatnya dan lain sebagainya, Amerika Serikat mulai memperkuat Persaudaraan Muslim di satu sisi, dan di sisi lainnya makin bersandar pada Saudi Arabia untuk beraksi sebagai pengimbang bagi Kairo. Pada kasus Iran, CIA berhasil melakukan kudeta dan menempatkan rejim Shah Iran sebagai bonekanya.
Jika sebelumnya Persaudaraan Muslim di Mesir dibangun dengan dana dari British Suez Canal Company, maka adalah dukungan Amerika Serikat dan Saudi Arabia yang membuat mereka jadi tumbuh dan berkembang. Saudi Arabia menggunakan Persaudaraan Muslim untuk melawan rejim sekuler di Mesir, Syria, dan Irak, dan kemudian membantu membangun basisnya di Sudan. Saudi Arabia juga mendorong Persaudaraan Muslim di Afghanistan dan Pakistan, dimana mereka bersekutu dengan Jamaah Islami yang dipimpin Maududi. Seperti yang dicatat oleh salah seorang senior CIA,
“lensanya adalah Perang Dingin. Perang Dingin adalah saat yang sangat menentukan. Kita melihat Nasser sebagai sosialis, anti Barat, anti pakta Baghdad, dan kita sedang mencari semacam transaksi. Usaha Saudi untuk mengislamkan kawasan tersebut kita anggap sebagai hal menentukan dan efektif dan sepertinya akan sukses. Kita suka itu. Kita punya sekutu melawan komunisme.”[1]
Persekutuan ini, meletakkan basis yang sangat kokoh bagi proses Islamisasi, dan pada akhirnya sukses merebut inisiatif dari kelompok nasionalisme sekuler, ketika kelompok terakhir ini mengalami proses kemunduran di akhir dekade 1960-an.
Sebagai tambahan untuk nasionalis sekuler, Washington menganggap berbagai partai sosialis dan komunis di wilayah Timur Tengah sebagai ancaman. Untuk itu segala macam cara dilakukan Washington untuk membatasi dan kemudian menghancurkan pengaruh partai-partai tersebut, dari propaganda hingga pembunuhan.
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh dokumen keamanan nasional yang telah dibuka untuk umum, Amerika Serikat menggunakan propaganda besar-besaran dalam bentuk film, pamflet, poster, manipulasi berita, majalah, buku, radio, kartun, dan lain sebagainya untuk melawan ideologi komunis. Satu contoh poster ditonjolkan adalah ‘Greedy Red Pig’ (Babi Merah Rakus) dengan sebuah palu dan arit untuk ekornya. Tujuannya adalah membuat negara Komunis Soviet tampak konyol sekaligus menakutkan di mata masyarakat Arab. Sisi lain dari usaha  komik itu (yang punya sedikit sekali pengaruhnya) adalah pembunuhan-pembunuhan yang direncanakan. Amerika Serikat memberikan bantuan pada pemerintah dan kelompok paramiliter sayap kanan untuk membunuh kaum kiri, seperti yang terjadi di tahun 1963, ketika CIA memasok partai Baath dengan nama-nama anggota Partai Komunis Irak untuk dibunuh.
Saudi Arabia
Titik balik perubahan strategi politik Amerika Serikat yang mendorong Islam ke tahapan politik dimulai pada dekade 1950-an. “Kami ingin mengeksplorasi kemungkinan untuk mengukuhkan Raja Saud sebagai pengimbang Nasser,” tulis Eisenhower pada seorang kepercayaannya. “Sang Raja adalah pilihan logis dalam hal ini; setidaknya dia mengaku sebagai anti Komunisme, dan dia menikmati (dalam dasar-dasar agama) kedudukan yang tinggi diantara seluruh negara-negara Arab.”[2] Dalam hal ini, Eisenhower dipengaruhi oleh ide-ide umur yang berlaku di kalangan akademisi berpengaruh yang berpendapat bahwa Islam telah terganggu dengan pengaruh Barat, dan karenanya patut dibawa kembali (dengan bantuan dari Amerika) ke posisinya yang terhormat.
Jelas ini adalah sebuah pemahaman yang simplistik dari peran agama dan politik Timur Tengah. Biarpun begitu, pandangan ini menggerakkan sebuah operasi gabungan yang Inggris sebut Omega, dimana Amerika Serikat mencari cara untuk mengisolasi Nasser dan menciptakan kutub alternatif yang menarik pada Raja Saud. Beberapa administrator bahkan mulai mengembangkan pendapat tentang Saud sebagai Paus Islam. Saud meskipun demikian, gagal untuk menjadi kutub magnetik yang dimaksud dengan berbagai alasan. Penerusnya, Raja Faisal, mengambil alih posisi tersebut dan membuat langkah-langkah penting dalam mengislamkan wilayahnya. Sejak itu, Saudi Arabia telah menjadi satu dari sekian promotor Islamisme yang paling berpengaruh dan berkuasa dibalik layar.
Meskipun Saudi Arabia adalah negara penghasil minyak dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun ia memiliki sedikit legitimasi politik di Timur Tengah selama era nasionalisme sekuler progresif. Secara regional, Nasserisme diterima secara luas sebagai model dan Mesir bertindak sebagai kekuatan politik dominan hingga akhir 1960-an. Bagaimanapun juga, setelah 1973, dinamika ini kemudian berubah. Embargo minyak menaikan prestise Saudi Arabia, begitu besarnya sehingga Saudi Arabia mampu merebut inisiatif dan menaruh Wahabisme ke dalam peta. Elit pemimpin Saudi kemudian menggunakan sumber minyak mereka untuk memajukan Islamisme dengan cara-cara sebagai berikut:
Mereka membangun jaringan kerja sosial, seperti lembaga-lembaga penyantun dan panti asuhan yang sangat luas, sehingga membuat kelompok-kelompok Islamis mampu menyediakan solusi bagi krisis ekonomi di berbagai negara.
Mereka menggunakan Liga Muslim Dunia, yang didirikan tahun 1962 untuk menandingi sekulerisme.
Mereka mengajak sejumlah negara-negara di wilayah mereka dibawah payung Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1969, untuk menetapkan agenda yang konsisten dengan pandangan Saudi.
Mereka menciptakan sistem keuangan Islam (Islamic Finansial System) yang mengikat berbagai negara Timur Tengah, Asia, dan Afrika ke dalam negara-negara kaya minyal.
Jika Liga Muslim Dunia dan Organisasi Konferensi Islam adalah alat politik untuk membangun hegemoni Saudi, maka sistem keuangan Islam menyediakan basis bagi pertumbuhan ekonomi mereka. Dibawah bimbingan Saudi, sejumlah besar uang yang masuk ke dalam negara-negara pengekspor minyak Arab di awal tahun 1970-an diarahkan ke jaringan perbankan yang berada di bawah kendali hak Islam (Islamic right) dan Persaudaraan Muslim. Bank-bank ini kemudian mendanai para politisi yang bersimpati, partai-partai, dan perusahaan media, juga usaha-usaha bisnis dari kelas menengah yang saleh (sebuah kelompok yang terdiri atas para keturunan kelas-kelas saudagar pemilik bazar-bazar atau toko-toko atau dalam bahasa Arab disebut dengan Souk). Yang juga kecipratan limpahan uang ini adalah para profesional kaya baru, hasil dari bekerja di berbagai negara penghasil minyak tersebut. Persaudaraan Muslim juga mendanai operasi mereka di Mesir, Kuwait, Pakistan, Turki, Yordania melalui perbankan ini.
Barat secara penuh menyokong sistem perbankan ini. Tak ingin dipinggirkan dari uang dollar minyak yang kini mengalir melalui bank-bank ini, bank-bank Barat berpartisipasi dengan cara menyediakan keahlian mereka, pelatihan, juga pengetahuan teknologi. Para pemain kunci di Amerika Serikat ini meliputi Citibank, Chase Manhattan, Price Waterhouse, dan Goldman Sachs. Disamping itu, bangkitnya sistem perbankan Islami bersinggungan dengan perkembangan model neoliberal di Barat. Hubungan dekat ini ditempa oleh guru neoliberal Milton Friedman dan para muridnya di Universitas Chicago, AS, serta kaum Islamis. Robert Dreyfuss menulis, keungan Islam secara berulang bersandar pada ekonom sayap kanan dan politisi Islam yang mendorong terjadinya privatisasi, pandangan pasar bebasnya aliran Chicago. Tidak mengherankan, ketika berkuasa kaum Islamis ini kemudian mengadopsi kebijakan neoliberal, seperti yang terjadi di Aljazair dan sudan.
Pada akhirnya, melalui berbagai lembaga politik, agama dan ekonomi, Saudi Arabia memainkan peran penting di balik layar dalam memperluas Islamisme. Gilles Kepel mengamati,
“Pengaruh Saudi Arabia kepada kaum Muslim di seluruh dunia memang lebih tak kentara dibandingkan Khomeini di Iran, tetapi efek yang ditinggalkannya lebih dalam dan lebih tahan lama. Kerajaan tersebut mengambilalih gagasan dari nasionalisme progresif, yang mendominasi di tahun 1960-an, lalu kemudian mengorganisasi ulang lanskap religius mengikuti arahan mereka, dan kemudian, dengan menyuntikkan sejumlah uang yang substansial ke dalam saham-saham Islam dalam berbagai bentuknya, mereka berhasil meyakinkan banyak orang untuk menjadi mualaf. Diatas segalanya, Saudi membangun sebuah standar baru (peradaban Islam yang berbudi luhur) untuk membentengi diri dari pengaruh Barat, sementara pada saat yang sama tetap mengelola persekutuan mereka dengan Amerika Serikat dan Barat dalam melawan blok Soviet (tidak seperti Iran).”[3]
Pendeknya, Saudi Arabia telah memainkan peran kunci dalam mempromosikan Islam politik. Seperti yang dicatat Rachel Bronson, “adalah Saudi Arabia, dengan kekayaannya yang melimpah dan ancaman asingnya yang sangat nyata, yang mengubah wacana global tentang Islam Politik. Dan ika Serikat.”[4] Peran ini makin kentara setelah tahun 1979, ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan dan Revolusi Iran mengakhiri Shah.



HAMMAM EL-MARISMA
(Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)




[1] Dreyfuss, Devil’s Game, 97-125.
[2] Dicuplik dari Dreyfuss, Devil’s Game, 121.
[3] Kepel, Jihad, pp. 61-62.
[4] Bronson, Thicker than Oil, 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar