Imperialisme
Amerika dan Islam Politik
Selama
Perang Dingin, Amerika Serikat memandang nasionalisme dan komunisme radikal
sebagai ancaman buruk untuk pengaruh mereka. Setelah periode awal ketika
Washington berusaha memenangkan Nasser, dan nasionalis sekuler Iran Mohammded
Mossadeqh ke pihak mereka gagal, Washington kemudian mengembangkan strategi
Islam dimana kelompok-kelompok Islamis yang dibantu Saudi Arabia, dibiarkan
untuk kemudian dijadikan benteng pertahanan melawan nasionalisme radikal dan
komunisme. Selama tahun 1950-an, Amerika Serikat menggunakan Persaudaraan
Muslim (Ikhwanul Muslimin/IM) di Mesir untuk menentang Nasser, dan sekelompok
ulama di Iran untuk menentang Mossadeqh.
Jika
Mossadeqh mewakili potensi terhadap apa yang penguasa nasionalis sekuler bisa
lakukan terhadap Barat atas kepentingan minyaknya (ia menasionalisasi industri
minyak), Nasser mewakili skenario mimpi buruk Washington. Mesir memang tak
memiliki kekayaan minyak, tapi ideologi Nasserisme yang menitikberatkan pada
persatuan seluruh bangsa Arab, coba mempersatukan negara-negara kota yang maju
secara teknologi dengan kelas pekerja yang terampil dalam jumlah besar, dengan
negara-negara penghasil minyak yang kaya-raya. Kombinasi Kairo dan Riyadh jelas
bakal mempersulit dominasi Barat terhadap sumber-sumber minyak dikawasan
tersebut. Maka, sebagai tambahan bagi rencana kudeta melawan Nasser, termasuk
berbagai percobaan pembunuhan terhadapnya, seperti meracuni coklatnya dan lain
sebagainya, Amerika Serikat mulai memperkuat Persaudaraan Muslim di satu sisi,
dan di sisi lainnya makin bersandar pada Saudi Arabia untuk beraksi sebagai
pengimbang bagi Kairo. Pada kasus Iran, CIA berhasil melakukan kudeta dan
menempatkan rejim Shah Iran sebagai bonekanya.
Jika
sebelumnya Persaudaraan Muslim di Mesir dibangun dengan dana dari British Suez
Canal Company, maka adalah dukungan Amerika Serikat dan Saudi Arabia yang
membuat mereka jadi tumbuh dan berkembang. Saudi Arabia menggunakan
Persaudaraan Muslim untuk melawan rejim sekuler di Mesir, Syria, dan Irak, dan
kemudian membantu membangun basisnya di Sudan. Saudi Arabia juga mendorong
Persaudaraan Muslim di Afghanistan dan Pakistan, dimana mereka bersekutu dengan
Jamaah Islami yang dipimpin Maududi. Seperti yang dicatat oleh salah seorang
senior CIA,
“lensanya
adalah Perang Dingin. Perang Dingin adalah saat yang sangat menentukan. Kita melihat
Nasser sebagai sosialis, anti Barat, anti pakta Baghdad, dan kita sedang
mencari semacam transaksi. Usaha Saudi untuk mengislamkan kawasan tersebut kita
anggap sebagai hal menentukan dan efektif dan sepertinya akan sukses. Kita suka
itu. Kita punya sekutu melawan komunisme.”[1]
Persekutuan
ini, meletakkan basis yang sangat kokoh bagi proses Islamisasi, dan pada
akhirnya sukses merebut inisiatif dari kelompok nasionalisme sekuler, ketika
kelompok terakhir ini mengalami proses kemunduran di akhir dekade 1960-an.
Sebagai
tambahan untuk nasionalis sekuler, Washington menganggap berbagai partai
sosialis dan komunis di wilayah Timur Tengah sebagai ancaman. Untuk itu segala
macam cara dilakukan Washington untuk membatasi dan kemudian menghancurkan
pengaruh partai-partai tersebut, dari propaganda hingga pembunuhan.
Sebagaimana
yang ditunjukkan oleh dokumen keamanan nasional yang telah dibuka untuk umum,
Amerika Serikat menggunakan propaganda besar-besaran dalam bentuk film,
pamflet, poster, manipulasi berita, majalah, buku, radio, kartun, dan lain
sebagainya untuk melawan ideologi komunis. Satu contoh poster ditonjolkan
adalah ‘Greedy Red Pig’ (Babi Merah Rakus) dengan sebuah palu dan arit untuk
ekornya. Tujuannya adalah membuat negara Komunis Soviet tampak konyol sekaligus
menakutkan di mata masyarakat Arab. Sisi lain dari usaha komik itu (yang punya sedikit sekali
pengaruhnya) adalah pembunuhan-pembunuhan yang direncanakan. Amerika Serikat
memberikan bantuan pada pemerintah dan kelompok paramiliter sayap kanan untuk
membunuh kaum kiri, seperti yang terjadi di tahun 1963, ketika CIA memasok
partai Baath dengan nama-nama anggota Partai Komunis Irak untuk dibunuh.
Saudi
Arabia
Titik
balik perubahan strategi politik Amerika Serikat yang mendorong Islam ke
tahapan politik dimulai pada dekade 1950-an. “Kami ingin mengeksplorasi kemungkinan
untuk mengukuhkan Raja Saud sebagai pengimbang Nasser,” tulis Eisenhower pada
seorang kepercayaannya. “Sang Raja adalah pilihan logis dalam hal ini;
setidaknya dia mengaku sebagai anti Komunisme, dan dia menikmati (dalam
dasar-dasar agama) kedudukan yang tinggi diantara seluruh negara-negara Arab.”[2]
Dalam hal ini, Eisenhower dipengaruhi oleh ide-ide umur yang berlaku di
kalangan akademisi berpengaruh yang berpendapat bahwa Islam telah terganggu
dengan pengaruh Barat, dan karenanya patut dibawa kembali (dengan bantuan dari
Amerika) ke posisinya yang terhormat.
Jelas
ini adalah sebuah pemahaman yang simplistik dari peran agama dan politik Timur
Tengah. Biarpun begitu, pandangan ini menggerakkan sebuah operasi gabungan yang
Inggris sebut Omega, dimana Amerika Serikat mencari cara untuk
mengisolasi Nasser dan menciptakan kutub alternatif yang menarik pada Raja Saud.
Beberapa administrator bahkan mulai mengembangkan pendapat tentang Saud sebagai
Paus Islam. Saud meskipun demikian, gagal untuk menjadi kutub magnetik yang
dimaksud dengan berbagai alasan. Penerusnya, Raja Faisal, mengambil alih posisi
tersebut dan membuat langkah-langkah penting dalam mengislamkan wilayahnya. Sejak
itu, Saudi Arabia telah menjadi satu dari sekian promotor Islamisme yang paling
berpengaruh dan berkuasa dibalik layar.
Meskipun
Saudi Arabia adalah negara penghasil minyak dan memiliki cadangan minyak
terbesar di dunia, namun ia memiliki sedikit legitimasi politik di Timur Tengah
selama era nasionalisme sekuler progresif. Secara regional, Nasserisme diterima
secara luas sebagai model dan Mesir bertindak sebagai kekuatan politik dominan
hingga akhir 1960-an. Bagaimanapun juga, setelah 1973, dinamika ini kemudian
berubah. Embargo minyak menaikan prestise Saudi Arabia, begitu besarnya
sehingga Saudi Arabia mampu merebut inisiatif dan menaruh Wahabisme ke dalam
peta. Elit pemimpin Saudi kemudian menggunakan sumber minyak mereka untuk
memajukan Islamisme dengan cara-cara sebagai berikut:
Mereka
membangun jaringan kerja sosial, seperti lembaga-lembaga penyantun dan panti
asuhan yang sangat luas, sehingga membuat kelompok-kelompok Islamis mampu
menyediakan solusi bagi krisis ekonomi di berbagai negara.
Mereka
menggunakan Liga Muslim Dunia, yang didirikan tahun 1962 untuk menandingi
sekulerisme.
Mereka
mengajak sejumlah negara-negara di wilayah mereka dibawah payung Organisasi
Konferensi Islam (OKI) tahun 1969, untuk menetapkan agenda yang konsisten dengan
pandangan Saudi.
Mereka
menciptakan sistem keuangan Islam (Islamic Finansial System) yang
mengikat berbagai negara Timur Tengah, Asia, dan Afrika ke dalam negara-negara
kaya minyal.
Jika
Liga Muslim Dunia dan Organisasi Konferensi Islam adalah alat politik untuk
membangun hegemoni Saudi, maka sistem keuangan Islam menyediakan basis bagi
pertumbuhan ekonomi mereka. Dibawah bimbingan Saudi, sejumlah besar uang yang
masuk ke dalam negara-negara pengekspor minyak Arab di awal tahun 1970-an
diarahkan ke jaringan perbankan yang berada di bawah kendali hak Islam (Islamic
right) dan Persaudaraan Muslim. Bank-bank ini kemudian mendanai para
politisi yang bersimpati, partai-partai, dan perusahaan media, juga usaha-usaha
bisnis dari kelas menengah yang saleh (sebuah kelompok yang terdiri atas para
keturunan kelas-kelas saudagar pemilik bazar-bazar atau toko-toko atau dalam
bahasa Arab disebut dengan Souk). Yang juga kecipratan limpahan uang ini adalah
para profesional kaya baru, hasil dari bekerja di berbagai negara penghasil
minyak tersebut. Persaudaraan Muslim juga mendanai operasi mereka di Mesir,
Kuwait, Pakistan, Turki, Yordania melalui perbankan ini.
Barat
secara penuh menyokong sistem perbankan ini. Tak ingin dipinggirkan dari uang
dollar minyak yang kini mengalir melalui bank-bank ini, bank-bank Barat
berpartisipasi dengan cara menyediakan keahlian mereka, pelatihan, juga
pengetahuan teknologi. Para pemain kunci di Amerika Serikat ini meliputi
Citibank, Chase Manhattan, Price Waterhouse, dan Goldman Sachs. Disamping itu,
bangkitnya sistem perbankan Islami bersinggungan dengan perkembangan model
neoliberal di Barat. Hubungan dekat ini ditempa oleh guru neoliberal Milton
Friedman dan para muridnya di Universitas Chicago, AS, serta kaum Islamis.
Robert Dreyfuss menulis, keungan Islam secara berulang bersandar pada ekonom
sayap kanan dan politisi Islam yang mendorong terjadinya privatisasi, pandangan
pasar bebasnya aliran Chicago. Tidak mengherankan, ketika berkuasa kaum Islamis
ini kemudian mengadopsi kebijakan neoliberal, seperti yang terjadi di Aljazair
dan sudan.
Pada
akhirnya, melalui berbagai lembaga politik, agama dan ekonomi, Saudi Arabia
memainkan peran penting di balik layar dalam memperluas Islamisme. Gilles Kepel
mengamati,
“Pengaruh
Saudi Arabia kepada kaum Muslim di seluruh dunia memang lebih tak kentara
dibandingkan Khomeini di Iran, tetapi efek yang ditinggalkannya lebih dalam dan
lebih tahan lama. Kerajaan tersebut mengambilalih gagasan dari nasionalisme progresif,
yang mendominasi di tahun 1960-an, lalu kemudian mengorganisasi ulang lanskap
religius mengikuti arahan mereka, dan kemudian, dengan menyuntikkan sejumlah
uang yang substansial ke dalam saham-saham Islam dalam berbagai bentuknya,
mereka berhasil meyakinkan banyak orang untuk menjadi mualaf. Diatas segalanya,
Saudi membangun sebuah standar baru (peradaban Islam yang berbudi luhur) untuk
membentengi diri dari pengaruh Barat, sementara pada saat yang sama tetap
mengelola persekutuan mereka dengan Amerika Serikat dan Barat dalam melawan
blok Soviet (tidak seperti Iran).”[3]
Pendeknya,
Saudi Arabia telah memainkan peran kunci dalam mempromosikan Islam politik. Seperti
yang dicatat Rachel Bronson, “adalah Saudi Arabia, dengan kekayaannya yang
melimpah dan ancaman asingnya yang sangat nyata, yang mengubah wacana global
tentang Islam Politik. Dan ika Serikat.”[4]
Peran ini makin kentara setelah tahun 1979, ketika Uni Soviet menginvasi
Afghanistan dan Revolusi Iran mengakhiri Shah.
HAMMAM EL-MARISMA
(Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar